Kabupaten Majene adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Barat yang sebagian besar wilayahnya bersentuhan langsung dengan laut. Dengan panjang garis pantai kurang lebih sejauh 150 km dari perbatasan Kabupaten Polewali Mandar hingga perbatasan Kabupaten Mamuju. Potensi perikanan Kabupaten Majene beraneka ragam diantaranya tuna dengan produksi rata-rata 782 ton/th, ikan cakalang 694 ton / th, tongkol 1.025 ton/th, ikan layang 621 ton/th dan ikan terbang 730 ton/th. Selain potensi ikan laut, Majene juga memiliki potensi perikanan tambak pada areal seluas 450 ha dengan produksi rata-rata 178,9 ton /tahun. Dengan potensi perikanan sedemikian besar ini menjadi penanda bahwa sebagian besar pendudukya menggantungkan kehidupannya di sektor perikanan.
Tahun 2012 adalah tahun pertama kali dimulainya program Pengembangan Usaha Mina Pedesaaan (PUMP) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP). Sebuah program yang diluncurkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menyalurkan bantuan langsung kepada masyarakat (BLM) khususnya masyarakat perikanan yang bergerak pada usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Sebanyak 25 Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) pada tahun 2012 menerima BLM PUMP P2HP yang dalam proses perencanaan sampai pada pasca menerima BLM didampingi oleh 4 orang Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) PPB Bidang P2HP. Pada tahun 2013 sebanyak 16 Poklahsar menerima BLM PUMP P2HP dan pada tahun 2014 sebanyak 7 Poklahsar juga menerima BLM PUMP P2HP yang kesemuanya didampingi oleh 1 orang PPB Bidang P2HP.
Pada tahun 2015 dilakukanlah evaluasi secara menyeluruh terhadap semua Poklahsar penerima BLM PUMP P2HP yang kemudian dari hasil evaluasi tersebut sebagian besar Poklahsar masih berupaya untuk terus bertumbuh. Ini adalah tantangan bagi PPB untuk terus melakukan penyuluhan dan pemberdayaan agar Poklahsar dapat menjadi penopang ketahanan pangan khususnya dalam scope lokal. Dalam proses penyuluhan dan pemberdayaan yang paling sering dilakukan adalah pertemuan-pertemuan non-formal yang ditujukan untuk memberikan motivasi agar Poklahsar terus berupaya merubah pola pikir sehingga dengan sendirinya dapat keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Penyuluhan dan pemberdayaan adalah cara paling ampuh untuk mendorong perubahan pola pikir masyarakat meski itu harus dilakukan secara berulang-ulang kali dan terus-menerus.
Poklahsar adalah entitas masyarakat perikanan yang sebagian besar aktivitasnya dinisbahkan untuk kepentingan meningkatkan kesejahteraan keluarga sehingga akan sangat sedikit waktu yang digunakan untuk belajar dan berpikir untuk mengupayakan inovasi-inovasi dalam aktivitas ekonominya. Mereka cenderung untuk mengikuti pola-pola usaha konvensional yang mereka anggap sederhana, efisien dan menguntungkan. Sedangkan upaya untuk melakukan modernisasi dan peningkatan kualitas hasil produksi sepertinya sangat berat untuk dilakukan. Hal ini juga dipengaruhi oleh daya beli masyakarat yang rendah yang cenderung lebih memilih hasil produksi perikanan yang lebih murah sehingga dorongan untuk meningkatkan kualitas produk dengan input biaya yang lebih besar akan terkalahkan dengan hasil produk perikanan yang lebih murah. Ini adalah tantangan yang tidak sederhana bagi Penyuluh Perikanan Bantu namun menerima keadaan tersebut dan tidak berupaya untuk terus-menerus melakukan perubahan adalah sama saja dengan langkah mundur.
Jeratan lingkaran setan kemiskinan yang didalamnya termasuk rendahnya daya beli, rendahnya pendapatan, rendahnya pendidikan, dan rendahnya produktivitas adalah sebuah tantangan bagi Penyuluh Perikanan Bantu agar Poklahsar dapat berangsur keluar dari jeratan lingkaran setan tersebut. Upaya yang dilakukan oleh PPB agar masyarakat terbantu berangsur keluar dari jeratan lingkaran setan adalah dengan penyuluhan tentang pentingnya tabungan kelompok. Selain penyuluhan tentang pentingnya tabungan kelompok, PPB juga berupaya untuk mambuat sistem pengelolaan keuangan Poklahsar yang sederhana dan mandiri agar pendapatan yang diperoleh sebagian dapat ditabung untuk kebutuhan dan keberlanjutan usaha di masa depan. Melalui sistem pengelolaan keuangan yang sederhana tersebut, setiap anggota poklahsar yang memiliki pendapatan dari usahanya sebagian ditabung ke kas Poklahsar melalui bendahara Poklahsar dan pada akhir tahun dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas usaha. Mengkampanyekan tentang pentingnya tabungan kelompok bukanlah hal yang mudah namun sesuatu yang harus dilakukan secara terus menerus hingga menjadi sebuah kebutuhan dan kesadaran setiap anggota Poklahsar.
Ahdiat,S.Pi,M.Si
PPB Kabupaten Majene - Sulawesi Barat

Terimakasih
dan
Salam PPB Indonesia.
EmoticonEmoticon