Sabtu, 20 Agustus 2016

Peran Vital PPB di Tengah Kekosongan Tenaga Penyuluh PNS Di Mamuju Tengah

Tags

Penyuluh Perikanan Bantu (PBB) yang direkrut oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMPKP) di awal tahun  2016 ini bernama  lengkap Farida, S.Pi, lahir pada tanggal 2 Mei 24 tahun lalu (1992) di polewali mandar provinsi sulawesi barat. menyelesaikan studi di universitas Tadulako Palu-sulawesi tengah pada akhir tahun 2015 dengan mengambil jurusan Budidaya Perikanan. Sangat tertarik degan budidaya air payau sehingga pada saat tugas akhir memilih udang vaname (Pennaeus vannamei)  sebagai bahan penelitian dan skripsi.
Bertugas di kabupaten mamuju tengah yang merupakan kabupaten termuda di Sulawesi Barat dengan panjang garis pantai 85,33 Km yang memungkinkan kabupaten ini memiliki potensi di bidang perikanan. Baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. umur kabupaten mamuju tengah yang baru 3 tahun menyebakan masih kurangnya kelembagaan penyuluh perikanan. Sehingga peran penyuluh perikanan diisi oleh penyuluh pertanian yang merangkap sebagai penyuluh perikaan (polivalen). Sehingga profesi penyuluh perikanan hanya dianggap sebagai profesi yang tidak memiliki paham atau dasar perikanan khususnya perikanan budidaya.

Pada tahun 2015 penerimaan pegawai negri sipil (PNS) di kabupaten ini hanya menerima satu orang penyuluh perikanan. potensi perikanan yang tinggi  namun jumlah tenaga penyuluh perikanannya yang sangat minim yaitu hanya berjumlah satu orang. Pada awal tahun 2016 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMPKP) merekrut tiga orang penyuluh perikanan bantu (PPB) bidang budidaya di kabupaten ini. Tiga orang penyuluh batu tersebut dengan nama : Danial, Amd. Pi, Ansar, S.Pi dan Farida, S.Pi. 
Adapun wilayah bianaanya adalah kecamatan pangale. Pembagiaan wilayah binaan diberikan satu kecamatan per satu orang penyuluh bantu mengigat masih kurangnya tenaga penyuluh perikanan di kabupaten mamuju tengah ini. Kecamatan pangale memiliki 9 desa dan 3 diantaranya merupakan desa pesisir dengan panjang pantai 28,83 km. Luas potensi perikanan air payau (tambak) di kecamatan pangale adalah 1.799,7 ha. Dengan luas potensi perikanan tersebut secara langsung wilayah ini memiliki banyak petambak yang terdiri dari banyak kelompok, namun yang menjadi kendala adalah karena sebelum tahun 2016 mamuju tengah tidak memiliki penyuluh perikanan dan hanya mengandalkan penyuluh pertanian  (Polivalen) maka bentuk kelompok bukan berupa POKDAKAN (Kelompok Pembudadaya  Ikan) tetapi berupa  Kelompok Tani-Nelayan. Kelompok tersebut digunakan kelompok tani dan   juga kelompok nelayan.
Hal ini menjadi tantangan awal   bagi  penyuluh  mengingat banyaknya kelompok  berbentuk tani nelayan. Sehingga penulis berinisiatif untuk membuat kelompok baru yaitu berupa POKDAKAN. Adapun daftar nama klompok binaan di kecamatan pangale yaitu Palapi, Siamasei, Makkarannu, Sipakainga,  Harapan Baru, Rammeang, Lestari,  Kerja Bersama, Darul Adnan, Surya, Cari Berkah dan Tabungku Lestari. Perlu diketahui bahwa tidak semua kelompok masuk dalam daftar dikarenakan keterbatasan penyuluh. Masih ada banyak kelmpok yang belum masuk daftar binaan baik kelompok budidaya maupun kelmpok nelayan tangkap. Penulis percaya bahwa cara awal agar suatu kelompok perikanan (POKDAKAN) berjalan dengan baik yaitu memastikan bahwa kelompok tersebut tidak lagi digunakan  di dua bidang atau lebih, bahkan jika masyarakatnya sekalipun memiliki pekerjaan merangkap tersebut (bertambak/nelayan , bertani dan berternak).
Memastikan bahwa kelompok tidak lagi digunakan  di dua bidang atau   lebih ataupun membuat kelompok baru tidaklah muda bagi penyuluh mengingat   masyarakat pembudidaya tidak mengetahui penting dan  kegunaan  kelompok. Hanya menggunakannya apabila membuat proposal   bantuan. Hal ini juga menjadi  tantangan penyuluh perikanan bantu di tengah keterbatasan. Salah satu Tugas penyuluh perikanan bantu yaitu  bersinergi dan   bekerjasama  dengan peyuluh perikanan PNS namun hal ini berbeda ceritanya dengan wilayah kekurangan penyuluh PNS.
Ditengah keterbatasan Penulis sebagai PPB yang memegang wilayah satu kecamatan. Dengan tugas yang tadinya membantu penyuluh perikanan PNS berubah menjadi penyuluh utama yaitu melaksanakan penyuluhan sebagaimana mestinya penyuluh. Penyuluhan perikanan yang pertama kali dilakukan di kecamatan Pangale oleh PPB. Karena kurangnya tenaga penyuluh perikanan sehingga penyuluhan tentang perikanan sama sekali belum pernah dilakukan di kecamatan ini.
Selain melakukan penyuluhan di kantor BP3K kecamatan penyuluh bantu juga melaksanakan penyuluhan di lapangan. Melihat langsung metode yang digunakan oleh pembudidaya merupakan langkah awal untuk memulai titik start suatu penyuluhan agar  penyuluh dan  pembudidaya dapat bersinergi dan memulai pada titik yang sama.
Selain penyuluhan  yang dilakukan  di  kantor  BP3K Kecamatan dan dilapangan. Penyuluh bantu juga  berusaha akrab dan  berbaur dengan masyarakat pembudidaya dan  keluarganya denngan melakukan kunjungan menyuluh di rumah pembudidaya.

Farida, S.Pi
PPB kab. Mamuju tengah

Terimakasih
dan
Salam PPB Indonesia.
EmoticonEmoticon