Berangkat dari keprihatinan dan kebingungan salah satu kelompok pembudidaya ikan desa krowe yang sering mengalami kegagalan dalam berbudidaya ikan, maka dengan inisisatif maka para pembudidaya mencari informasi ke dinas terkait. Bak gayung bersambut maka pada pertengahan bulan September tahun 2014 atas inisiatif pembudidaya dan penyuluh perikanan bantu melakukan pertemuan kelompok untuk mencari permasalahan dan mencari solusi atas permasalahan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk dibentuknya kelompok pembudidaya ikan dengan nama kelompok budidaya ikan “Sendang Klampok” dengan anggota dan pengurus pada waktu itu berjumlah 5 orang pembudidaya dengan ketua bernama sdr. Edi Sutrisno.
Namun dengan pembentukan kelompok pun kurang tanpa adanya legalitas. Atas masukan dari tenaga pendamping dalam hal ini penyuluh perikanan bantu maka kelompok budidaya ikan Sendang Klampok meminta pengukuhan kelompok ke Kepala Desa Krowe, dan kepala desa mendukung kegiatan tersebut dengan mengukuhkan kelompok pembudidaya ikan Sendang Klampok dengan nomor SK : 475/ 82/ 403.418.10/ 2015 pada tanggal 15 Januari 2015.
Pembentukan kelompok tersebut memiliki harapan tersendiri karena selama ini cukup banyak kelompok pembudidaya ikan yang terbentuk berdasarkan Top Down alias bukan inisiatif dari bawah. Sejak terbentuknya, kelompok ini secara continue membuat pertemuan-pertemuan rutin rata-rata sebulan sekali. Banyak hambatan dalam mengumpulkan pembudidaya, namun hal itu terus dilakukan.
Kendala awal
Mengorganisir pembudidaya bukan persoalan mudah, Kelompok pembudidaya ikan ini menemukan banyak permasalahan dan kendala awal antara lain :
- Sangat sulit menghadirkan pembudidaya dalam setiap pertemuan
- Pesimisme pembudidaya terhadap budidaya ikan lele.
- Motivasi pembudidaya berkelompok adalah menerima bantuan, menghabiskan dan menunggu lagi bantuan
- Rata-rata memlihara ikan hanya dijadikan sampingan
- Belum adanya tempat berkumpul sehingga rapatnya dari rumah ke rumah walaupun lebih banyak menggunakan rumah sekretaris
Merancang strategi
Melihat berbagai macam masalah awal, maka pengurus penyuluh bantu mulai merancang strategi guna keluar secara bertahap dari masalah yang ada. Adapun strategi yang dibangun adalah : (1) Setiap pertemuan, pengurus berusaha semaksimal mungkin menghadirkan penyuluh. Hal ini cukup efektif karena ternyata pembudidaya merasa bangga dan merasa diperhatikan bila dalam pertemuan dihadiri para pejabat. Tidak jarang para pejabat itu datang dengan membawa berita gembira bagi pembudidaya. (2) Setiap rapat, kami mengingatkan pembudidaya secara terus menerus sebagai bentuk mengubah pola pikir lama. Diantara yang sering kami sampaikan adalah : ”Pemerintah akan percaya dan membantu kita kalau kita berkelompok dengan baik”, ”tidak ada bantuan tanpa kelompok”, ”pengurus kelompok akan mengurusi pembudidaya dengan sebaik-baiknya”. Disamping itu, sekecil apapun perkembangan kelompok selalu disampaikan pada saat rapat sehingga pembudidaya tahu dan bangga atas perkembangan kelompoknya.
Memberi Optimisme ke Anggota melalui penyuluhan
Selalu memberikan motivasi dan optimisme ke pembudidaya ikan anggota kelompok bahwa budidaya ikan lele itu menguntungkan. Setiap bulan sekali dalam pertemuan selalu meminta materi ke penyuluh bantu dalam hal ini sebagai penyuluh pendamping untuk meningkatkan pengetahuan. Materi yang diberikan meliputi teknik budidaya, CBIB, Kualitas air, Pencegahan dan penanggulangan hama dan penyakit serta panen.
Bantuan mengalir
Sejak kelompok pembudidaya ikan mulai aktif, anggota sadar berkelompok dan pertemuan rutin terlaksana, maka mulai saat itu bantuan mulai mengalir. Mulai dari bantuan benih ikan sampai bantuan PUMM 2015.
Menjalin Kemitraan dan Kerja sama dengan Pihak Lain.
Dalam perkembangannya kelompok melakukan pola kemitraan dengan pihak lain, dalam hal ini meliputi kemitraan pakan dan benih. Dalam sistem kemitraan ini, kelompok bekerja sama dengan toko pakan dan para pembenih rakyat di Kabupaten Magetan. Dalam sistem tersebut para pembudidaya diwajibkan mengambil pakan dan benih hanya satu pintu lewat kelompok, dan para anggota tidak dituntut untuk membayar langsung, pembayaran pakan dan benih dilakukan setelah panen ikan untuk meminimalkan kerugian pada kelompok.
Selain kerjasama tersebut kelompok dikenalkan tentang dunia perbangkan untuk mengembangkan usaha budidayanya, namun kelompok masih takut dengan resiko perbangkan yang tinggi.
Dalam sebulan sekali para pengurus kelompok dan penyuluh perikanan bantu diwajibkan hadir dalam acara UPP di Kab. Magetan.
Rudiyanto S. Pi
PPB Kab. Magetan
Terimakasih
dan
Salam PPB Indonesia.
EmoticonEmoticon