Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya untuk mewujudkan kemandirian para pembudidaya ikan khususnya dalam penyediaan pakan ikan. Dimana tidak dapatdipungkiri lagi bahwa biaya pengeluaran terbesar dalam suatu usaha budidaya ikan adalah biaya belanja pakan. Oleh karena itu, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menggagas program Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI). GERPARI menjadi salah satu program utama dan prioritas DJPB untuk menuju kedaulatan dan kemandirian bagi pembudidaya ikan.
Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) akan mendorong pembudidaya untuk tidak lagi tergantung dari bahan baku pakan impor. Sumberdaya alam negeri kita sangat besar dan banyak, tentu dapat dimanfaatkan untuk menggantikan bahan baku pakan impor tersebut, demikian ungkapan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto seperti dikutip kkp.go.id. Lebih lanjut di tegaskan bahwa “ adanya produksi perikanan budidaya secara global yang meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, menuntut adanya kondisi yang akan menimbulkan kebutuhan bahan baku pakan dalam jumlah yang besar”.
Menindaklanjuti kegiatan GERPARI yang dicanangkan oleh KKP, maka Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ogan Ilir bersama Penyuluh Perikanan PNS dan Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) melakukan upaya pendampingan terhadap pelaku utama perikanan untuk dapat mandiri, yang dapat menghasilkan pakan ikan berupa pellet sendiri dengan kandungan protein yang standard dan atau tinggi sesuai dengan kebutuhan makan ikan yang dibudidayakan.Oleh karena itu, maka di tahun 2015, Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) “Sepakat” yang merupakan kelompok binaan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ogan Ilir adalah salah satu kelompok yang telah diusulkan dan direkomendasikan DJPB sebagai kelompok yang menerima paket bantuan program GERPARI.
Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) “Sepakat” yang diketuai oleh bapak A. Gafur yang beralamat di Dusun I Desa Seri Banding Kecamatan Pemulutan Barat Kabupaten Ogan Ilir, merupakan Kelompok Pembudidaya Ikan dengan jumlah anggota sebanyak 10 orang dan komoditas usaha budidaya kelompok ini adalah Ikan Patin dan Ikan Nila. POKDAKAN ini terbentuk pada tanggal 25 Mei 2009 yang merupakan salah satu kelompok yang pernah mendapat bantuandari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP dalam Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Budidaya (PUMP-PB) pada tahun 2011.
Seiring berjalannya kegiatan pembesaran ikan patin dalam beberapa kali siklus produksi, bapak A. Gafur akhirnya pada tahun 2013 berinisiatif ingin menghasilkan pakan ikan sendiri.Ini disebabkan oleh pakan pabrikan yang semakin hari semakin mahal saja. Dengan bermodalkan mesin pakan bekas yang dibeli dari seorang teman, POKDAKAN mulai belajar membuat pakan sendiri. Dalam pembuatan pakan, bapak A. Gafur tidak mengalami kesulitan dalam mencari bahan baku pakan yang dibutuhkan seperti bekatul, ikan asin dan ampas kecap. Semua bahan baku pakan yang dibutuhkan tersedia banyak dipasaran, mudah didapatkan, dan harganya yang murah.
Dari tahun 2013 – 2015, POKDAKAN ini menggunakan 3 (tiga) bahan baku, bila dilihat dari formulasi pakan yang benar pokdakan ini masih sangat kekurangan bahan baku, sehingga protein yang dihasilkan dari formulasi ini sangat rendah sekitar 16 %. Menurut Pokdakan, formulasiini sudah cukup memenuhi kebutuhan protein ikan patin yang mereka besarkan, padahal pada kenyataannya kebutuhan protein ikan yang dipelihara terbantu oleh adanya pakan alami dan ikan-ikan kecil yang ada diperairan sungai. Pellet yang dihasilkan ini baru digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan POKDAKAN“Sepakat” (produksi pellet masih dalam skala kecil), karena seluruh anggotanya merupakan pembudidaya ikan. Pakan ikan / pellet yang dihasilkan oleh pokdakan ini adalah jenis pakan basah (bukan kering, seperti pakan yang dicetak pada umumnya), karena bahan baku yang digunakan masih dalam keadaan basah belum menjadi tepung.Lama pemeliharaan pembesaran ikan menggunakan pakan mandiri hampir sama dengan penggunaan pakan komersil yaitu sekitar 8 – 9 bulan dengan bobot ikan rata-rata pada saat panen 800 – 1200 gram / ekor (catatan : ukuran benih ikan saat tebar sekitar 2 inch).
Pada tahun 2016, POKDAKAN dibina dan didampingi untuk memperbaiki formulasi pakan yang digunakan dengan memperhatikan keakuratan persentase bahan yang digunakan untuk menghasilkan formulasi yang tepat. Pada bulan Maret 2016 lalu, POKDAKAN“Sepakat” mendapat kunjungan dari Direktur Pakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bapak Coco Kokarkin. Kunjungan ini bertujuan untuk Monitoring dan Evaluasi Gerpari tahun 2015. Bapak Coco Kokarkin sangat apresiasi terhadap kelompok ini hingga kesan yang diberikan sangat diluar dugaan “Excellent". “Diharapkan kedepannya dapat menjadi pelaku utama yang dapat memformulasikan pakan dan dapat membantu kelompok lainnya” masukan dari beliau.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ogan Ilir, Penyuluh Perikanan PNS dan Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) bersama Tim dari Balai Budidaya Ikan Air Tawar Jambi pada bulan Mei 2016, melakukan pendampingan pembuatan pakan mandiri berkualitas baik dengan bahan baku lokal. Tim dari BBAT Jambi membawa sampel pakan Pokdakan Sepakat untuk diuji kandungan protein dalam pakan. Tim dari BBAT Jambi juga melakukan praktek pembuatan pakan untuk memberikan contoh formulasi pakan yang tepat dengan menggunakan 7 bahan baku, kemudian pakan tersebut juga diuji dilaboratorium untuk mengetahui kadar protein pakan.
Bektia Afrinasari, S.Pi
PPB Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan

Terimakasih
dan
Salam PPB Indonesia.
EmoticonEmoticon